
Kawasan Malioboro di Yogyakarta bakal memasuki babak baru. Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan Malioboro Jogja Full Pedestrian yang dijadwalkan mulai diterapkan pada November 2026. Nantinya, koridor utama Malioboro akan menjadi kawasan yang lebih ramah bagi pejalan kaki dengan membatasi kendaraan bermotor yang melintas.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan kawasan wisata yang lebih nyaman, aman, tertata, sekaligus mendukung konsep kota yang berkelanjutan. Selama ini, Malioboro memang menjadi destinasi favorit wisatawan dari berbagai daerah. Namun, tingginya aktivitas kendaraan di beberapa akses menuju kawasan tersebut kerap menimbulkan kemacetan dan mengurangi kenyamanan pengunjung.
Lantas, seperti apa penerapan kebijakan tersebut? Berikut fakta lengkap mengenai program Malioboro Jogja Full Pedestrian yang perlu diketahui.
Malioboro Resmi Disiapkan Menjadi Kawasan Full Pedestrian
Program Malioboro Jogja Full Pedestrian dijadwalkan mulai berlaku pada November 2026. Dengan kebijakan ini, kawasan utama Malioboro akan lebih difokuskan sebagai ruang bagi pejalan kaki dibandingkan kendaraan bermotor.
Konsep full pedestrian sebenarnya bukan hal baru di berbagai kota besar dunia. Banyak kawasan wisata internasional telah menerapkan sistem serupa untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas. Kini, Yogyakarta juga mulai menerapkan konsep tersebut di kawasan Malioboro yang menjadi ikon wisata kota.
Melalui kebijakan ini, wisatawan nantinya bisa menikmati suasana Malioboro dengan lebih leluasa. Aktivitas berjalan kaki, menikmati pertunjukan seni jalanan, berburu kuliner, hingga berbelanja oleh-oleh diharapkan menjadi pengalaman yang lebih menyenangkan tanpa terganggu lalu lalang kendaraan.
Selain meningkatkan kenyamanan wisatawan, program ini juga menjadi bagian dari upaya mempercantik wajah kawasan Malioboro agar semakin menarik sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Daftar Jalan yang Akan Dipasangi Portal

Salah satu langkah nyata dalam mendukung program Malioboro Jogja Full Pedestrian adalah penyediaan anggaran sekitar Rp230 juta. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan sekaligus pemasangan portal di sejumlah titik yang telah ditentukan. Sebanyak 13 ruas jalan akan menjadi lokasi pemasangan portal dalam program Malioboro Jogja Full Pedestrian.
Berikut rinciannya.
| Nama Jalan | Jumlah Portal |
|---|---|
| Jalan Abu Bakar Ali | 1 |
| Jalan Sosrowijayan | 2 |
| Jalan Perwakilan | 2 |
| Jalan Sosrokusuman | 1 |
| Jalan Dagen | 2 |
| Jalan Pajeksan | 2 |
| Jalan Suryatmajan | 2 |
| Jalan Ketandan Kulon | 1 |
| Jalan Beskalan | 1 |
| Jalan Remujung | 1 |
| Jalan Pabringan | 2 |
| Jalan Reksobayan Selatan | 2 |
| Jalan Sosromenduran | 1 |
Seluruh titik tersebut dipilih karena menjadi akses kendaraan menuju kawasan inti Malioboro.
Dengan pengaturan ini, lalu lintas di sekitar kawasan wisata diharapkan menjadi lebih tertib tanpa menghilangkan akses penting bagi masyarakat.
Kendaraan Darurat Tetap Bisa Melintas
Meski menerapkan konsep Malioboro Jogja Full Pedestrian, pemerintah memastikan layanan darurat tidak akan terganggu.
Portal dirancang agar tetap bisa dibuka ketika terdapat kendaraan dengan kebutuhan khusus.
Beberapa kendaraan yang tetap mendapat akses antara lain:
- Ambulans
- Mobil pemadam kebakaran
- Kendaraan pelayanan publik
- Kendaraan darurat lainnya
Dengan adanya pengecualian ini, aspek keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Jadi, meskipun kendaraan umum dibatasi, penanganan kondisi darurat tetap dapat dilakukan dengan cepat.
Pelaku Usaha Masih Bisa Bongkar Muat Barang
Banyak pedagang sempat khawatir penerapan Malioboro Jogja Full Pedestrian akan menyulitkan distribusi barang dagangan.
Namun pemerintah telah menyiapkan solusi melalui pengaturan waktu bongkar muat.
Aktivitas distribusi barang tetap diperbolehkan sehingga operasional toko, hotel, restoran, hingga pusat oleh-oleh tetap dapat berjalan normal.
Pemerintah menetapkan dua rentang waktu utama, yaitu:
- Malam hingga dini hari.
- Pagi hari sebelum pukul 09.00 WIB.
Dengan sistem tersebut, kendaraan logistik dapat menyelesaikan pekerjaannya sebelum kawasan Malioboro mulai dipadati pengunjung.
Pengaturan waktu ini juga cukup umum diterapkan di berbagai kawasan wisata dunia yang mengutamakan kenyamanan pejalan kaki.
Mendorong Penggunaan Transportasi Ramah Lingkungan
Salah satu tujuan besar dari program Malioboro Jogja Full Pedestrian adalah menciptakan kawasan wisata yang lebih ramah lingkungan.
Karena kendaraan bermotor semakin dibatasi, moda transportasi alternatif menjadi pilihan yang lebih menarik.
Salah satunya adalah becak listrik yang mulai diperkenalkan sebagai sarana transportasi di kawasan Malioboro.
Selain menghasilkan emisi yang lebih rendah dibanding kendaraan berbahan bakar fosil, becak listrik juga menawarkan pengalaman wisata yang unik.
Wisatawan tetap bisa berkeliling kawasan tanpa harus berjalan terlalu jauh, sekaligus menikmati suasana khas Malioboro dengan lebih santai.
Wisatawan Akan Mendapat Pengalaman yang Lebih Nyaman
Salah satu manfaat paling terasa dari penerapan Malioboro Jogja Full Pedestrian adalah meningkatnya kenyamanan wisatawan.
Tanpa lalu lintas kendaraan yang padat, pengunjung bisa berjalan lebih leluasa sambil menikmati suasana jalan legendaris ini.
Aktivitas seperti berburu kuliner, berfoto, menikmati pertunjukan seni jalanan, hingga berbelanja oleh-oleh menjadi lebih menyenangkan.
Selain itu, tingkat kebisingan dari kendaraan juga diperkirakan berkurang sehingga suasana Malioboro terasa lebih santai.
Hal ini sejalan dengan konsep kawasan wisata modern yang mengutamakan ruang publik bagi masyarakat.
Program Malioboro Jogja Full Pedestrian menjadi langkah penting dalam menata kawasan wisata paling ikonik di Yogyakarta. Dengan pemasangan 20 portal di 13 ruas jalan, pembatasan kendaraan menuju koridor utama, pengaturan jam bongkar muat, hingga dukungan terhadap transportasi ramah lingkungan seperti becak listrik, pemerintah berupaya menciptakan ruang publik yang lebih nyaman dan aman.
Bagi wisatawan, kebijakan ini memberikan pengalaman berjalan kaki yang lebih menyenangkan. Sementara bagi pelaku usaha, aktivitas perdagangan tetap dapat berlangsung melalui pengaturan operasional yang telah disiapkan. Ke depannya, Malioboro diharapkan semakin dikenal sebagai kawasan wisata modern yang tetap mempertahankan nilai budaya dan karakter khas Yogyakarta.
(metrotvnews)Baca artikel lainnya:





