
Perayaan Tahun Baru Imlek belum benar-benar usai sebelum hadirnya kemeriahan festival Cap Go Meh 2026. Momen istimewa ini dirayakan tepat pada hari ke-15 setelah perayaan Imlek dimulai.
Secara budaya, Cap Go Meh menandai penutup Tahun Baru Imlek sekaligus menjadi puncak kemeriahan dari seluruh rangkaian festival. Di daratan Tiongkok, perayaan ini lebih dikenal luas oleh masyarakat internasional dengan sebutan Festival Lampion.
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara lengkap mengenai Cap Go Meh tanggal berapa, serta mengupas sejarah, makna, dan tradisinya. Keunikan festival budaya ini selalu berhasil menarik perhatian jutaan pasang mata setiap tahunnya.
Cap Go Meh 2026 Tanggal Berapa?

Banyak masyarakat yang sering bertanya mengenai tanggal Cap Go Meh 2026 di kalender masehi agar tidak melewatkan kemeriahannya. Berdasarkan perhitungan kalender lunar kuno, perayaan ini selalu jatuh pada hari ke-15 di bulan pertama tahun baru.
Pada tahun ini, perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili jatuh pada tanggal 17 Februari 2026. Oleh karena itu, jika dihitung tepat lima belas hari setelahnya, maka perayaan Cap Go Meh 2026 akan jatuh pada hari Selasa, 3 Maret 2026.
Penjelasan sederhana ini sangat memudahkan masyarakat untuk menjadwalkan kunjungan wisata mereka. Namun perlu dicatat bahwa meskipun dirayakan secara masif, tanggal 3 Maret 2026 bukan merupakan hari libur nasional menurut keputusan pemerintah.
Sejarah Cap Go Meh

Sejarah Cap Go Meh memiliki akar historis yang sangat kuat dari tradisi peradaban Tiongkok kuno. Tradisi ini diperkirakan sudah bermula sejak era Dinasti Han, yakni sekitar tahun 206 Sebelum Masehi hingga 220 Masehi.
Pada masa-masa awalnya, ritual ini dilakukan murni sebagai bentuk upacara penghormatan sakral kepada Dewa Thai Yi. Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada era keemasan Dinasti Tang, festival ini berkembang dan semakin populer di kalangan masyarakat luas.
Di Tiongkok, festival ini kemudian lebih identik sebagai Festival Lampion atau Yuan Xiao Jie. Lampion-lampion yang indah dipasang di berbagai penjuru kota sebagai perlambang datangnya pencerahan dan harapan. Tradisi yang kaya makna ini kemudian dibawa masuk oleh para pelaut dan migran etnis Tionghoa ke Nusantara sejak abad ke-15.
Makna Cap Go Meh dalam Tradisi Tionghoa
Secara kebahasaan, nama festival ini berasal dari bahasa dialek Hokkien. Rinciannya adalah kata “Cap” yang berarti sepuluh, “Go” yang berarti lima, dan kata “Meh” yang bermakna malam.
Lebih dari sekadar nama, perayaan ini adalah simbol harapan dan doa untuk tahun yang baik. Nyala lampion yang terang benderang menyimbolkan masa depan yang cerah, kemakmuran, dan jalan hidup yang penuh keberuntungan bagi seluruh keluarga.
Momen ini juga memiliki makna kebersamaan keluarga yang tidak ternilai harganya. Masyarakat biasanya berkumpul untuk mensyukuri rezeki dan saling mendoakan keselamatan. Sebagai penutup resmi perayaan Tahun Baru Imlek, festival ini menjadi batas akhir dari seluruh rangkaian ritual adat sebelum masyarakat kembali bekerja.
Nilai budaya dan spiritual juga sangat terasa melalui kegiatan ibadah. Umat senantiasa memanjatkan rasa syukur dan harapan yang mendalam kepada Tuhan di berbagai kelenteng.
Tradisi dan Perayaan Cap Go Meh di Indonesia

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia tidak lagi sama persis dengan di negara asalnya, melainkan telah berkembang secara lokal. Hampir setiap wilayah menyuntikkan sentuhan kebudayaan khas yang sangat memukau.
Beberapa daerah besar yang selalu sukses menggelar hajatan ini antara lain Singkawang, Pontianak, Palembang, dan Bogor. Arak-arakan barongsai dan tarian naga atau liong selalu menjadi tontonan primadona dalam setiap festival.
Atraksi lincah ini diyakini oleh masyarakat mampu mengusir energi negatif dan mendatangkan hoki. Selain kesenian tersebut, ada pula pertunjukan yang menguji nyali seperti ritual Tatung di Kalimantan. Masyarakat juga kerap memadati panggung festival budaya yang selalu dimeriahkan dengan pawai lampion dan doa khidmat di kelenteng.
Dari sisi kuliner nusantara, hidangan adaptif seperti lontong Cap Go Meh selalu wajib tersaji. Bentuk lontong yang memanjang secara filosofis melambangkan panjang umur, sedangkan kuah kuning kunyitnya bermakna kekayaan dan kemakmuran melimpah.
Festival Cap Go Meh Singkawang dan Tradisi Tatung
Apabila membicarakan skala kemeriahan, Festival Cap Go Meh Singkawang tentu memegang predikat yang paling bergengsi. Kota pesisir di Kalimantan Barat ini telah lama diakui sebagai pusat perayaan terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Magnet utama dan paling mendebarkan dari festival di kota ini adalah kemunculan para penganut tradisi Tatung Singkawang. Tatung pada dasarnya adalah sebuah bentuk ritual pembersihan kota dari aneka roh jahat atau kegiatan tolak bala.
Individu-individu yang terpilih akan dimasuki oleh roh leluhur dan melakukan atraksi kebal senjata tajam keliling kota. Tradisi ekstrem ini merupakan perpaduan harmonis antara sistem kepercayaan Tionghoa kuno dan nilai tradisi lokal suku Dayak.
Daya tarik wisata dan budaya dari acara ini sungguh luar biasa besar. Ini juga menjadi cerminan sejati dari perayaan lintas etnis di mana semua orang berpesta bersama.
Mengapa Cap Go Meh Tetap Relevan Hingga Kini?
Menjelang tahun 2026, perayaan ini terus mengedepankan nilai toleransi dan keberagaman yang hakiki. Sebagai contoh nyata, acara di Bogor dan Yogyakarta pada tahun ini disesuaikan waktu pelaksanaannya demi menghormati umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa.
Daya tarik pariwisata dari acara musiman ini juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Penyelenggaraan karnaval dan bazar kuliner mampu menyokong perputaran ekonomi dan menguntungkan usaha mikro di daerah.
Acara ini secara berkesinambungan menjadi wadah strategis bagi pelestarian budaya Tionghoa di Indonesia. Generasi masa depan dapat terus mengagumi warisan seni leluhur mereka agar tidak lekang dimakan zaman.
Lebih dari itu, perhelatan ini menciptakan momentum kebersamaan lintas komunitas yang damai. Perbedaan latar belakang budaya di Indonesia terbukti bukan menjadi batasan, melainkan perekat sosial yang ampuh.
FAQ Seputar Cap Go Meh 2026
Cap Go Meh 2026 jatuh pada tanggal berapa?
Berdasarkan sistem penanggalan lunar, perayaan Cap Go Meh 2026 dipastikan jatuh pada hari Selasa, 3 Maret 2026. Tanggal ini bertepatan persis dengan hari kelima belas setelah momen Tahun Baru Imlek.
Apa arti Cap Go Meh?
Kata ini diserap dari kosakata dialek Hokkien di mana “Cap” memiliki arti sepuluh, “Go” berarti lima, dan “Meh” berarti malam. Secara harfiah dan sederhana, gabungan kata ini dapat diartikan sebagai malam kelima belas.
Apakah Cap Go Meh hari libur nasional?
Meskipun diselenggarakan dengan sangat meriah dan penuh warna di berbagai daerah, hari ini bukan termasuk tanggal merah atau libur nasional. Mengacu pada peraturan resmi, hanya perayaan Tahun Baru Imlek yang ditetapkan sebagai hari libur.
Di mana perayaan Cap Go Meh paling meriah di Indonesia?
Episentrum perayaan paling meriah dan terbesar di negara ini berlokasi di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Daerah lain seperti halnya Bogor, kawasan Glodok di Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta juga menyelenggarakan festival budaya masif yang sangat memikat.
Penutup
Melihat sejarah dan perkembangannya, Cap Go Meh 2026 tidak hanya dimaknai sebagai penutup kemeriahan tahun kalender lunar saja. Rangkaian festival ini merupakan sebuah pengingat yang indah mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam, mensyukuri kehidupan, dan merawat ikatan persaudaraan.
Perayaan ini membuktikan bahwa tradisi bangsa luar mampu melebur dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Kami berharap semangat lampion yang menyala terang dapat terus memancarkan aura kedamaian untuk kita sekalian.
Baca Juga: Kalender Maret 2026 Lengkap dengan Tanggal Merah, Libur Lebaran, dan Cuti Bersama
Kalender Maret 2026 Lengkap dengan Tanggal Merah, Libur Lebaran, dan Cuti Bersama




