
Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret oleh berbagai negara di seluruh dunia sebagai bentuk penghormatan terhadap pencapaian perempuan. Peringatan tahun 2026 memiliki makna yang sangat spesial karena menandai tonggak 115 tahun gerakan perempuan dunia yang telah diperjuangkan sejak pertama kali dideklarasikan pada tahun 1911.
Melalui momentum ini, komunitas global kembali disadarkan akan pentingnya mempercepat kemajuan menuju dunia yang lebih adil bagi semua orang. Peringatan tahun ini mengusung tema global yang menyoroti pentingnya penegakan hak, akses terhadap keadilan, serta aksi nyata untuk melindungi masa depan seluruh perempuan dan anak perempuan tanpa terkecuali.
Apa Itu Hari Perempuan Internasional?

Hari Perempuan Internasional merupakan momentum global tahunan yang dirancang untuk merayakan prestasi sosial, ekonomi, budaya, dan politik perempuan di berbagai belahan dunia. Perayaan ini juga berfungsi sebagai seruan bertindak (call to action) untuk mempercepat tercapainya kesetaraan gender di semua lini kehidupan.
Berikut adalah beberapa poin utama untuk memahami urgensi perayaan ini:
- Tujuan utama peringatan adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang diskriminasi gender yang masih terjadi dan mendorong perubahan kebijakan yang lebih inklusif.
- Pentingnya kesetaraan hak perempuan ditegaskan sebagai landasan utama untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera, stabil, dan berkelanjutan secara ekonomi.
- Peran gerakan perempuan di berbagai negara telah berhasil mendorong lahirnya undang-undang perlindungan, hak pilih politik, hingga peluang kepemimpinan bagi kaum hawa.
- Tanggal 8 Maret dipilih karena memiliki kaitan sejarah yang kuat dengan protes buruh perempuan dan perjuangan hak-hak sipil di masa lalu.
Sejarah Singkat Hari Perempuan Internasioal

Munculnya International Women’s Day berawal dari keresahan para perempuan terhadap kondisi kerja yang tidak adil pada awal abad ke-20. Berikut adalah tahapan penting dalam sejarah perkembangannya:
- Gerakan buruh perempuan di Amerika Serikat pada tahun 1908 menjadi pemicu awal, di mana ribuan perempuan melakukan demonstrasi menuntut jam kerja pendek dan upah layak.
- Konferensi perempuan internasional di Kopenhagen pada tahun 1910 mengusulkan adanya hari khusus untuk merayakan gerakan perempuan secara global setiap tahunnya.
- Peringatan pertama secara resmi digelar pada tahun 1911 di negara-negara seperti Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss, yang diikuti oleh jutaan orang dalam berbagai aksi massa.
- Pengakuan global semakin menguat saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mulai merayakan hari ini pada tahun 1975 sebagai Tahun Perempuan Internasional.
- PBB kemudian menetapkan tanggal 8 Maret sebagai hari untuk mempromosikan hak-hak perempuan dan perdamaian internasional secara permanen pada tahun 1977.
Tema Hari Perempuan Internasional 2026
Untuk tahun 2026, UN Women telah menetapkan tema resmi yaitu: “Rights. Justice. Action. For ALL Women and Girls.” Tema ini dipilih sebagai respons terhadap data global yang menunjukkan bahwa perempuan hanya memiliki sekitar 64 persen dari hak hukum yang dimiliki oleh laki-laki.
Makna dari tema IWD 2026 tersebut meliputi beberapa pilar penting:
- Pentingnya hak hukum bagi perempuan untuk memastikan perlindungan dari diskriminasi dalam pekerjaan, kepemilikan aset, hingga keamanan pribadi.
- Akses terhadap keadilan yang menuntut sistem hukum di seluruh dunia agar lebih responsif terhadap kebutuhan penyintas kekerasan dan bebas dari bias gender.
- Aksi nyata untuk kesetaraan yang mengharuskan adanya langkah praktis, seperti peningkatan anggaran pendidikan bagi anak perempuan dan penghapusan pernikahan anak.
- Upaya menghapus hambatan struktural terhadap perempuan agar mereka dapat berpartisipasi penuh dalam proses pengambilan keputusan di tingkat nasional maupun internasional.
Selain tema dari PBB, terdapat pula kampanye global bertajuk “Give To Gain” (#GiveToGain). Kampanye ini menekankan filosofi resiproksitas atau timbal balik, di mana dukungan dan investasi yang diberikan kepada perempuan akan mendatangkan keuntungan kolektif bagi kemajuan seluruh masyarakat.
Fokus Isu Perempuan di Indonesia
Konteks Hari Perempuan Internasional 2026 di Indonesia difokuskan pada upaya integrasi perspektif gender ke dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyoroti setidaknya 12 area kritis yang harus segera diatasi untuk menutup kesenjangan gender di tanah air.
Beberapa isu utama yang menjadi sorotan meliputi:
- Pengentasan kemiskinan perempuan melalui pemberdayaan ekonomi di sektor UMKM dan perlindungan bagi pekerja migran di luar negeri.
- Akses pendidikan dan kesehatan yang merata, terutama dalam penurunan angka kematian ibu serta pemberian literasi digital bagi perempuan di daerah terpencil.
- Perlindungan dari kekerasan berbasis gender yang masih marak terjadi baik di ruang fisik maupun di dunia digital.
- Implementasi UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang lebih kuat untuk memberikan kepastian hukum bagi korban dan menghapus budaya impunitas bagi pelaku.
Pemerintah juga menyelaraskan komitmen ini dengan pilar pembangunan Asta Cita. Fokus utamanya adalah penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang inklusif dan responsif gender guna mencapai visi Indonesia Maju.
Berbagai Kegiatan Peringatan di Indonesia
Agenda peringatan 8 Maret di Indonesia tahun ini sangat beragam dan tersebar di berbagai daerah. Mengingat tanggal perayaan bertepatan dengan bulan Ramadan 1447 Hijriah, banyak kegiatan yang mengusung nuansa reflektif dan religius tanpa menghilangkan semangat aktivisme.
Jakarta
Di ibu kota, berbagai organisasi masyarakat sipil seperti LBH APIK Jakarta melakukan refleksi mendalam atas perjalanan 25 tahun pengabdian mereka. Mereka meluncurkan laporan tahunan bertajuk Catatan Tahunan (CATAHU) 2025 yang membedah kasus kekerasan terhadap perempuan. Selain itu, terdapat seminar pemberdayaan di Smesco Startup Hub pada 10 Maret yang membahas kesehatan mental dan karier profesional bagi perempuan muda.
Yogyakarta
Yogyakarta menyambut perayaan ini dengan sentuhan seni dan budaya yang kental. Keraton Yogyakarta menyelenggarakan pameran temporer “Smarabawana” yang dimulai tepat pada 8 Maret untuk menyoroti tata kota yang inklusif. Sementara itu, lembaga seperti Rifka Annisa Women’s Crisis Center terus aktif mengadakan diskusi publik dan program advokasi bagi penyintas kekerasan. Kegiatan komunitas di ruang terbuka hijau juga dilakukan dengan melibatkan perempuan dalam aksi pelestarian lingkungan.
Cara Masyarakat Berpartisipasi dalam Hari Perempuan Internasional

Partisipasi dalam gerakan ini tidak harus selalu dilakukan melalui aksi besar di lapangan. Setiap individu dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana yang memiliki dampak nyata bagi lingkungan sekitar.
Berikut adalah beberapa cara praktis untuk terlibat:
- Mempelajari sejarah perjuangan perempuan untuk memahami tantangan yang dihadapi generasi terdahulu dan mengapresiasi kemajuan yang sudah ada.
- Mendukung bisnis milik perempuan dengan membeli produk mereka atau memberikan promosi gratis melalui ulasan positif di berbagai platform.
- Menyuarakan kesetaraan gender di media sosial dengan membagikan informasi edukatif atau cerita inspiratif tentang tokoh perempuan hebat.
- Mengikuti diskusi atau webinar terkait isu perempuan, seperti webinar tentang pencegahan kekerasan berbasis gender online (KBGO) yang diadakan oleh komunitas aktivis.
- Menggunakan tagar resmi seperti #IWD2026 dan #GiveToGain untuk menunjukkan solidaritas dalam jaringan komunikasi global.
Penutup
Hari Perempuan Internasional bukan sekadar peringatan seremonial tahunan, melainkan sebuah momentum krusial untuk mendorong perubahan sosial yang lebih besar. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa hak-hak perempuan adalah hak asasi manusia yang harus dijunjung tinggi demi masa depan peradaban yang lebih bermartabat.
Meskipun banyak kemajuan telah dicapai, tantangan terkait kesetaraan gender masih menjadi isu penting di berbagai negara, termasuk dalam upah yang setara dan keamanan fisik. Oleh karena itu, mari kita jadikan Hari Perempuan Internasional sebagai titik awal untuk terus bertindak secara nyata setiap hari guna menciptakan dunia yang adil bagi semua.





