Hari Tritura: Sejarah, Makna, dan Latar Belakang Tri Tuntutan Rakyat

Hari Tritura Sejarah, Makna, dan Latar Belakang Tri Tuntutan Rakyat

Setiap tahun pada tanggal 10 Januari, bangsa Indonesia memperingati sebuah momen bersejarah yang dikenal sebagai Hari Tritura. Peringatan ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan pengingat akan kekuatan gerakan mahasiswa dalam mengubah arah perjalanan bangsa. Di tengah dinamika politik yang terjadi puluhan tahun silam, tanggal ini menjadi saksi keberanian kaum intelektual muda menyuarakan aspirasi rakyat.

Hari Tritura memiliki kaitan erat dengan transisi kekuasaan dari Orde Lama menuju Orde Baru. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana krisis kepercayaan publik dan himpitan ekonomi dapat memicu gelombang protes yang masif. Memahami sejarah peringatan ini sangat penting bagi generasi penerus untuk mengerti nilai-nilai demokrasi dan sejarah politik Indonesia.

Apa Itu Hari Tritura?

Hari Tritura Sejarah, Makna, dan Latar Belakang Tri Tuntutan Rakyat

Secara sederhana, Hari Tritura adalah peringatan terhadap aksi demonstrasi besar-besaran yang mengajukan “Tri Tuntutan Rakyat” atau Tiga Tuntutan Rakyat. Aksi ini dipelopori oleh mahasiswa dan pemuda yang merasa resah dengan kondisi negara pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Istilah “Tritura” sendiri menjadi simbol perlawanan moral terhadap kebijakan pemerintah yang saat itu dianggap tidak pro-rakyat.

Para mahasiswa yang turun ke jalan pada saat itu tidak bergerak sendiri. Mereka bergabung dalam berbagai kesatuan aksi yang solid untuk menyampaikan aspirasi murni dari hati nurani rakyat. Peringatan ini menjadi simbol bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agent of change atau agen perubahan dalam tatanan sosial dan politik Indonesia.

Latar Belakang Sejarah Munculnya Tritura

Hari Tritura Sejarah, Makna, dan Latar Belakang Tri Tuntutan Rakyat

Munculnya Tritura tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari berbagai persoalan yang membelit Indonesia pada pertengahan dekade 1960-an. Pasca-tragedi nasional G30S pada tahun 1965, stabilitas politik Indonesia sangat terguncang. Kepercayaan masyarakat terhadap Presiden Soekarno dan pemerintahan Orde Lama mulai merosot tajam.

Selain faktor politik, kondisi ekonomi Indonesia saat itu berada di titik nadir. Rakyat menjerit akibat hiperinflasi yang mencapai angka fantastis, yakni sekitar 600 hingga 650 persen. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi sehingga tidak terjangkau oleh rakyat kecil. Situasi ini diperparah dengan kebijakan pemotongan nilai mata uang (sanering) yang justru memicu kepanikan pasar.

Pemerintah dinilai lamban dalam mengambil tindakan tegas terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituduh sebagai dalang pemberontakan. Ketidaktegasan ini, ditambah dengan krisis perut yang dialami rakyat, mendorong mahasiswa untuk mengambil inisiatif. Mereka merasa perlu ada “penyambung lidah” untuk menuntut perbaikan nasib bangsa yang sedang di ujung tanduk.

Isi Tri Tuntutan Rakyat

Inti dari gerakan ini terangkum dalam tiga poin utama yang sangat lugas dan mendesak. Mahasiswa merumuskan tuntutan ini berdasarkan apa yang paling dibutuhkan rakyat dan negara saat itu.

Berikut adalah isi dari Tri Tuntutan Rakyat (Tritura):

  • Pembubaran PKI (Partai Komunis Indonesia)
    Tuntutan pertama ini bersifat politis dan ideologis. Mahasiswa mendesak pemerintah untuk segera membubarkan PKI beserta organisasi masanya (ormas) karena dianggap telah melakukan pengkhianatan terhadap negara dan Pancasila melalui peristiwa G30S.
  • Pembersihan Kabinet Dwikora
    Tuntutan kedua menyasar jajaran eksekutif. Mahasiswa meminta agar Kabinet Dwikora dibersihkan dari unsur-unsur yang terlibat atau berafiliasi dengan G30S/PKI. Rakyat menilai kabinet tersebut sudah tidak bersih dan tidak bisa dipercaya untuk memimpin pemulihan negara.
  • Penurunan Harga dan Perbaikan Ekonomi
    Tuntutan ketiga adalah yang paling menyentuh aspek kemanusiaan. Mahasiswa menuntut pemerintah segera menurunkan harga kebutuhan pokok yang mencekik leher rakyat. Ini adalah representasi penderitaan masyarakat bawah yang paling terdampak oleh krisis ekonomi.

Peristiwa Demonstrasi Tritura Tahun 1966

Puncak dari kegelisahan tersebut meledak pada tanggal 10 Januari 1966 hingga 13 Januari 1966. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), bersama organisasi lain seperti Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), turun ke jalanan Jakarta. Mereka mendatangi gedung-gedung pemerintahan, termasuk Gedung DPR-GR, untuk menyampaikan Tritura.

Suasana demonstrasi berlangsung panas namun penuh semangat patriotisme. Mahasiswa melakukan aksi mogok kuliah dan turun ke jalan sebagai bentuk tekanan politik. Sayangnya, aksi ini juga memakan korban jiwa. Seorang mahasiswa Universitas Indonesia, Arif Rahman Hakim, gugur tertembak dalam bentrokan dengan aparat keamanan. Gugurnya Arif Rahman Hakim justru semakin membakar semangat perlawanan mahasiswa dan menjadikannya martir gerakan tersebut.

Tekanan yang bertubi-tubi dari gerakan Tritura ini akhirnya memaksa Presiden Soekarno untuk merespons. Situasi politik yang semakin tidak terkendali kemudian bermuara pada dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966. Surat ini memberikan mandat kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban, yang secara de facto menandai lahirnya era Orde Baru.

Makna Hari Tritura bagi Banga Indonesia

Peringatan Hari Tritura memiliki makna yang sangat mendalam bagi perjalanan demokrasi di Indonesia. Peristiwa ini menegaskan bahwa kekuasaan pemerintah tidaklah absolut dan harus selalu berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Ketika saluran formal macet, gerakan sosial yang dimotori mahasiswa menjadi penyeimbang yang efektif.

Bagi generasi muda, sejarah ini mengajarkan tentang pentingnya kepekaan sosial. Mahasiswa tahun 1966 tidak menuntut kekuasaan untuk diri mereka sendiri, melainkan berjuang demi harga beras yang terjangkau dan keamanan negara. Ini adalah bentuk moral force atau kekuatan moral yang murni.

Nilai sejarah lainnya adalah tentang persatuan. Tritura berhasil menyatukan berbagai elemen bangsa—mahasiswa, pelajar, sarjana, buruh, dan tentara—untuk satu tujuan bersama: menyelamatkan Indonesia dari kehancuran. Semangat gotong royong dalam menyuarakan kebenaran inilah yang relevan untuk terus dijaga.

Apakah Hari Tritura Termasuk Hari Libur Nasional?

Seringkali muncul pertanyaan di masyarakat, apakah tanggal 10 Januari merupakan hari libur? Jawabannya adalah bukan.

Hari Tritura tergolong sebagai hari besar nasional yang bersejarah, namun tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional atau tanggal merah oleh pemerintah. Kegiatan perkantoran, sekolah, dan instansi pemerintah tetap berjalan seperti biasa pada tanggal ini. Meskipun demikian, esensi peringatannya tetap hidup melalui berbagai kegiatan yang bersifat seremonial dan edukatif.

Cara Memperingati Hari Tritura

Meskipun bukan hari libur, kita bisa memperingati momen bersejarah ini dengan cara-cara yang positif dan membangun wawasan kebangsaan.

Tujuan utamanya adalah menolak lupa akan sejarah bangsa sendiri. Berikut beberapa cara yang biasa dilakukan:

  1. Diskusi Sejarah: Mengadakan kajian atau webinar di sekolah dan kampus untuk membedah kembali peristiwa 1966 dan relevansinya dengan masa kini.
  2. Edukasi Digital: Menyebarkan informasi valid mengenai sejarah Tritura melalui media sosial untuk melawan hoaks sejarah.
  3. Refleksi Kebangsaan: Melakukan hening cipta atau doa bersama untuk mengenang jasa para pahlawan demonstrasi yang telah gugur memperjuangkan nasib rakyat.
  4. Kunjungan Museum: Mengunjungi museum sejarah atau diorama yang menampilkan peristiwa peralihan Orde Lama ke Orde Baru untuk mendapatkan gambaran visual yang nyata.

Penutup

Hari Tritura yang diperingati setiap 10 Januari adalah monumen pengingat bahwa suara rakyat adalah elemen vital dalam kehidupan bernegara. Tri Tuntutan Rakyat lahir dari kondisi krisis yang memaksa pemuda untuk bergerak meluruskan jalannya pemerintahan.

Sejarah mencatat bahwa perubahan besar di negeri ini sering kali dimulai dari kepedulian anak-anak mudanya. Dengan memahami sejarah Tritura, kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga merawat semangat kritis dan cinta tanah air untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Baca Juga: Hari Gerakan Satu Juta Pohon Diperingati Setiap 10 Januari, Ini Sejarah dan Tujuannya

Hari Gerakan Satu Juta Pohon Diperingati Setiap 10 Januari, Ini Sejarah dan Tujuannya