Mata Uang Iran Anjlok Tajam, Ini Nilai Tukar Terbarunya ke Rupiah

Mata Uang Iran Anjlok Tajam, Ini Nilai Tukar Terbarunya ke Rupiah

Perbincangan mengenai mata uang Iran kembali memanas di panggung ekonomi global pada awal tahun 2026. Bukan karena penguatan, melainkan karena kejatuhan nilainya yang mencapai rekor terendah dalam sejarah negara tersebut. Bagi para pengamat ekonomi dan masyarakat internasional, fenomena ini menjadi studi kasus nyata tentang bagaimana kombinasi sanksi internasional dan kegagalan kebijakan domestik dapat melumpuhkan sistem keuangan sebuah negara dalam waktu singkat.

Keruntuhan nilai tukar Rial (IRR) ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa. Data pasar menunjukkan bahwa depresiasi ini terjadi secara sistemik dan cepat, memicu kekhawatiran akan terjadinya hiperinflasi yang dapat mengguncang stabilitas sosial di Timur Tengah. Artikel ini akan mengupas tuntas kondisi terkini, menghitung nilai tukarnya terhadap Rupiah, serta menganalisis penyebab dan dampak dari pelemahan mata uang Iran yang sedang terjadi.

Kondisi Terkini Mata Uang Iran di Tahun 2026

Mata Uang Iran Anjlok Tajam, Ini Nilai Tukar Terbarunya ke Rupiah

Memasuki Januari 2026, Rial Iran mengalami apa yang disebut oleh para ekonom sebagai “terjun bebas”. Di pasar bebas atau open market (yang menjadi acuan nyata bagi rakyat Iran karena sulitnya mengakses kurs resmi pemerintah) nilai tukar Dolar AS (USD) terhadap Rial telah menembus angka psikologis yang mencengangkan.

Laporan pasar menunjukkan bahwa 1 Dolar AS kini setara dengan sekitar 1.470.000 Rial Iran. Angka ini menunjukkan lonjakan depresiasi yang masif jika dibandingkan dengan awal tahun 2025, di mana nilai tukar masih berada di kisaran 817.500 Rial per Dolar. Penurunan nilai lebih dari 70% dalam satu tahun kalender ini telah menghancurkan daya beli masyarakat dan memaksa Gubernur Bank Sentral Iran mengundurkan diri pada akhir Desember 2025.

Nilai Tukar Rial Iran ke Rupiah Hari Ini

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dari warganet Indonesia adalah: Seberapa murah mata uang Iran jika dikonversi ke Rupiah?

Melihat data lintas kurs pada Januari 2026, perbandingannya cukup mengejutkan. Dengan asumsi kurs Rupiah berada di level Rp16.800 per Dolar AS dan Rial Iran di pasar bebas berada di 1.470.000 per Dolar AS, kita dapat melihat realitas berikut:

  • 1 Rupiah Indonesia (IDR) setara dengan sekitar 87 hingga 88 Rial Iran (IRR).
  • Sebaliknya, 1 Rial Iran hanya bernilai sekitar Rp0,011.

Sebagai gambaran konkret, uang selembar Rp2.000 milik Anda secara teoritis bisa ditukar dengan sekitar 175.000 Rial Iran di pasar gelap Teheran. Namun, perlu dicatat bahwa angka yang Anda lihat di mesin pencari Google atau konverter mata uang resmi bank sering kali berbeda (misalnya menampilkan 1 IDR = 59 IRR) karena mereka masih menggunakan patokan kurs resmi pemerintah Iran yang tidak lagi mencerminkan realitas pasar.

Penyebab Mata Uang Iran Terus Melemah

Mata Uang Iran Anjlok Tajam, Ini Nilai Tukar Terbarunya ke Rupiah

Mengapa mata uang Iran bisa hancur sedemikian rupa dalam waktu singkat? Jawabannya terletak pada “polikrisis” atau gabungan dari berbagai tekanan berat yang terjadi bersamaan pada akhir 2025 hingga awal 2026.

  1. Kembalinya Sanksi PBB (“Snapback”)
    Faktor terbesar adalah aktifnya mekanisme Snapback dari Resolusi PBB 2231 pada September 2025. Mekanisme ini mengembalikan seluruh sanksi internasional PBB yang sempat dicabut pada 2015. Berbeda dengan sanksi sepihak Amerika Serikat, sanksi PBB mengikat seluruh negara di dunia secara hukum. Akibatnya, negara-negara yang sebelumnya masih mau berdagang tipis-tipis dengan Iran kini mundur total karena takut melanggar hukum internasional. Isolasi ini mematikan akses Iran ke sistem perbankan global yang tersisa.
  2. Anjloknya Ekspor Minyak ke Tiongkok
    Selama bertahun-tahun, Tiongkok adalah “penyelamat” ekonomi Iran dengan membeli sebagian besar minyaknya. Namun, pada akhir 2025, volume ekspor ini anjlok lebih dari 50%, dari sekitar 1,8 juta barel per hari menjadi di bawah 850.000 barel per hari. Kilang-kilang independen di Tiongkok (dikenal sebagai teapots) mengurangi pembelian secara drastis karena ketakutan akan sanksi sekunder yang lebih agresif di bawah pemerintahan AS yang baru, serta masalah kuota impor domestik. Hilangnya pendapatan petrodolar ini membuat cadangan devisa Iran kering kerontang.
  3. Pembongkaran Jaringan “Perbankan Bayangan”
    Iran selama ini mengandalkan jaringan rahasia perusahaan cangkang dan sistem pesan antarbank buatan sendiri (CIMS) untuk memindahkan uang. Namun, intelijen keuangan AS berhasil memetakan dan memberikan sanksi pada simpul-simpul utama jaringan ini, termasuk Bank of Kunlun di Tiongkok dan Cyrus Bank. Terputusnya jalur “tikus” ini membuat Iran tidak bisa memulangkan uang hasil ekspornya ke dalam negeri, sehingga tidak ada suplai dolar untuk menstabilkan pasar saat panik melanda.

Dampak Pelemahan Mata Uang Iran bagi Ekonomi

Kejatuhan nilai tukar ini bukan hanya angka di layar monitor, tetapi telah berubah menjadi bencana kemanusiaan dan ekonomi bagi rakyat Iran:

  • Hiperinflasi Pangan
    Harga makanan meroket tajam. Inflasi pangan dilaporkan mencapai 75,4%. Harga kebutuhan pokok seperti daging, telur, dan produk susu naik dua kali lipat, memaksa banyak keluarga mengurangi konsumsi harian mereka.
  • Krisis Obat-obatan
    Karena pemerintah menghapus subsidi nilai tukar untuk impor barang esensial, harga obat-obatan vital menjadi tidak terjangkau bagi rakyat biasa.
  • Kenaikan Pajak yang Mencekik
    Dalam upaya putus asa menambal anggaran negara yang bangkrut, pemerintah Iran menaikkan target pajak sebesar 62% dalam Anggaran 2026. Kebijakan ini memukul sektor usaha kecil dan menengah yang sudah sekarat, memicu gelombang kebangkrutan dan pengangguran.

Mengapa Topik Mata Uang Iran Jadi Perhatian Dunia

Apa yang terjadi pada mata uang Iran menarik perhatian dunia karena implikasinya yang luas:

  • Pelajaran Sanksi Ekonomi
    Kasus ini menunjukkan efektivitas (dan kebrutalan) sanksi multilateral PBB jika diterapkan secara penuh, memberikan sinyal keras bagi negara lain yang berkonflik dengan komunitas internasional.
  • Stabilitas Energi
    Meskipun ekspor Iran menurun, kekacauan di salah satu produsen minyak terbesar dunia selalu membawa risiko gangguan pasokan global, terutama jika rezim di Teheran merespons tekanan ekonomi dengan tindakan militer di Selat Hormuz.
  • Potensi Perubahan Politik
    Keruntuhan ekonomi telah memicu protes besar-besaran yang dikenal sebagai “Pemberontakan Musim Dingin” (Winter Uprising). Berbeda dengan protes sebelumnya, kali ini pedagang pasar tradisional (Bazaaris) ikut turun ke jalan, menandakan hilangnya dukungan dari basis ekonomi tradisional negara tersebut.

Penutup

Jatuhnya mata uang Iran ke titik terendah pada awal 2026 adalah manifestasi dari kegagalan sistematik yang dipicu oleh isolasi global dan salah urus ekonomi domestik. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya stabilitas makroekonomi dan ketahanan terhadap guncangan eksternal. Dengan nilai tukar 1 Rupiah yang kini setara dengan puluhan Rial, Iran menghadapi jalan terjal nan panjang untuk memulihkan kepercayaan rakyat dan dunia terhadap mata uang nasional mereka.

Baca Juga: Magang Kemnaker Menembus Target, Peminat Menumpuk di Sektor Tertentu

Magang Kemnaker Menembus Target, Peminat Menumpuk di Sektor Tertentu