
Dalam beberapa hari terakhir, linimasa media sosial Indonesia, khususnya TikTok dan Instagram, dibanjiri oleh narasi yang cukup meresahkan warganet. Sebuah informasi menyebar dengan cepat, menyebutkan bahwa Indonesia akan mengalami kegelapan total akibat listrik padam 7 hari berturut-turut pada bulan Januari 2026. Isu ini tidak hanya sekadar rumor teknis, tetapi juga dibumbui dengan klaim menakutkan tentang matinya jaringan internet dan kelumpuhan total layanan perbankan atau ATM.
Tak pelak, kabar burung ini memicu gelombang kecemasan di tengah masyarakat. Banyak yang bertanya-tanya, apakah kita harus mulai menimbun lilin dan bahan makanan? Atau ini hanyalah sensasi digital belaka? Sebelum Anda ikut panik atau meneruskan pesan berantai di grup keluarga, ada baiknya kita menelisik lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik kehebohan ini.
Kronologi Viralnya Isu Listrik Padam 7 Selama Hari

Isu ini tidak muncul begitu saja dari ruang hampa. Penelusuran jejak digital menunjukkan bahwa gelombang kepanikan ini bermula dari potongan video yang viral di TikTok dan kemudian menyebar ke platform lain. Video tersebut menampilkan pernyataan Komjen Pol (Purn) Dharma Pongrekun dalam sebuah sesi podcast. Dalam video tersebut, Dharma berbicara mengenai konsep kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat (emergency preparedness), sebuah praktik yang lumrah di negara-negara maju.
Namun, konteks asli pembicaraan tersebut terdistorsi ketika dipotong menjadi klip pendek. Akun-akun aggregator berita dan pengguna media sosial kemudian menambahkan narasi dramatis. Kata kunci seperti isu listrik padam, “persiapan survival”, hingga pemadaman listrik nasional mulai mendominasi kolom pencarian. Narasi yang terbangun seolah-olah menyimpulkan bahwa peringatan tersebut adalah prediksi pasti akan terjadinya bencana energi dalam waktu dekat, yang dikaitkan dengan konflik geopolitik global atau badai matahari. Akibatnya, listrik padam viral menjadi topik hangat yang memicu spekulasi liar tanpa verifikasi.
Klarifikasi Resmi: Komdigi Tegaskan Itu Hoaks

Menanggapi keresahan yang meluas, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bergerak cepat untuk meluruskan informasi yang simpang siur. Dalam pernyataan resminya, Komdigi secara tegas melabeli informasi mengenai rencana listrik padam 7 hari sebagai HOAKS atau informasi bohong.
Komdigi menjelaskan bahwa tidak ada dasar fakta yang mendukung klaim tersebut. PT PLN (Persero) selaku otoritas tunggal kelistrikan negara juga memastikan bahwa sistem kelistrikan nasional, khususnya Jawa-Bali, dalam kondisi aman dan beroperasi normal dengan cadangan daya yang lebih dari cukup. Klarifikasi ini menegaskan bahwa video yang beredar telah disalahartikan (misinformasi) atau sengaja dipelintir (disinformasi) untuk menciptakan sensasi. Isu mengenai badai matahari yang disebut-sebut sebagai penyebab juga telah dibantah oleh BMKG, yang menyatakan bahwa infrastruktur kelistrikan Indonesia relatif aman dari dampak fenomena antariksa tersebut karena posisi geografis di khatulistiwa. [sc: komdigi]
Mengapa Isu Seperti Ini Mudah Viral?
Pertanyaan besarnya adalah, mengapa masyarakat kita begitu mudah percaya pada narasi listrik padam 7 hari ini? Fenomena ini bisa dijelaskan melalui beberapa faktor psikologis dan sosiologis:
- Validasi Semu dari Kejadian Luar Negeri
Tanpa disadari, warganet sering melakukan “cocoklogi”. Pada awal Januari 2026, memang terjadi insiden kelistrikan nyata di Eropa. Di Berlin, Jerman, terjadi sabotase kabel yang menyebabkan pemadaman selama beberapa hari , dan di Amsterdam, Belanda, terjadi ledakan gardu yang mematikan listrik kota sesaat. Informasi valid dari luar negeri ini dicampuradukkan dengan narasi lokal, menciptakan ilusi bahwa “krisis energi global” sedang merambat ke Indonesia. - Psikologi Ketakutan (Fear-Mongering)
Konten yang memicu rasa takut secara alami mendapatkan interaksi (engagement) lebih tinggi di algoritma media sosial. Judul yang bombastis memancing respons emosional yang lebih cepat daripada nalar kritis. - Minimnya Verifikasi
Budaya “share dulu, baca nanti” masih kuat. Ketika melihat wajah tokoh publik atau istilah teknis yang terdengar serius, banyak orang langsung menganggapnya sebagai kebenaran tanpa mengecek sumber primer.
Imbauan: Saring Sebelum Sharing
Di era digital ini, jempol kita memiliki kekuatan besar, baik untuk menyebarkan kebaikan maupun kepanikan. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpancing oleh judul berita yang provokatif atau potongan video tanpa konteks yang jelas.
Jika Anda menerima informasi mengenai pemadaman listrik, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan verifikasi melalui saluran resmi. Untuk masalah kelistrikan, aplikasi PLN Mobile adalah sumber informasi paling akurat mengenai jadwal pemeliharaan atau gangguan di wilayah Anda. Jangan menjadikan akun gosip atau grup pesan instan sebagai rujukan utama untuk informasi vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Penutup
Sebagai kesimpulan, dapat dipastikan bahwa narasi mengenai Indonesia yang akan gelap gulita akibat listrik padam 7 hari adalah tidak benar. Sistem energi kita beroperasi normal, dan insiden yang terjadi di Eropa tidak memiliki dampak teknis ke jaringan listrik nusantara.
Mari kita jadikan fenomena ini sebagai pelajaran penting tentang literasi digital. Tetap tenang, tetap kritis, dan pastikan setiap informasi yang kita serap berasal dari sumber yang kredibel. Ingat, kegelapan yang sesungguhnya bukan karena matinya listrik, melainkan karena matinya nalar dalam menyaring informasi.
Baca Juga: Hari Gizi Nasional 2026, Menilik Status Gizi Terkini dan Tantangan Pemenuhan Nutrisi di Indonesia
Hari Gizi Nasional 2026, Menilik Status Gizi Terkini dan Tantangan Pemenuhan Nutrisi di Indonesia





